Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dan Kemerdekaan RI ke 63, kembali bangsa ini dingatkan akan keberadaan generasi mendatang sebagai pewaris negeri ini. Bervariasi tanggapan muncul, merasa bangga menjadi pewaris negeri yang kaya subur dan makmur, ada pula merasa mengenyampingkan sifat nasionalisnya, yang disebabkan oleh karena ketidak adilan yang dijalankan oleh penguasa, serta ada pula generasi yang hidup dalam dunianya sendiri tanpa memperhatikan atau pudili terhadap perubahan keberadaan bangsa ini, baik demensi ekonomi, politik, dan sosbud.
Nasionalisme Yang Luntur
Sifat nasionalis pemudah saat ini, dengan tanda tanya besar, masih minimbulkan pertanyaan besar. Mungkin dibutuhkan akurasi tanggapan atau yang melatarbelakanginnya menimbulnya pertanyaan tersebut, atau sebab musabab lainnya, sebagai berikut :
1. Berkaca dari sinioritas atau para orang tua yang menduduki tampuk kekuasaan yang absolutisme sangat tinggi, memungkinkan mereka melakukan tindakan tidak terpuji, yaitu korupsi, pungli, upeti, suap, manipulatif dan lain-lainnya, dan merebah dikalangan penguasa, eksekutif, legeslatif dan yudikatif, suatu contoh yang sudah tidak lazim lagi kita melihatnya, dalam media layar kaca.
2. Fokus mata masyarakat, anak-anak dan generasi penerus bangsa, akan dijadikan dasar untuk membudayakan keadaan yang tak berkaadilan, dan akan terus bergulir mengikuti danimisme suatu keadaan dan masyarakat yang artinya ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”
3. Ketimpangan keadilan, pemahaman tersebut menorehkan dalam gambaran sejarah yang kelam, dan sebagai kekwatiran saat ini, adanya indoktrinnalisasi budaya dalam diri pemudah yang akan menimbulkan luka lama, dan luka lama menjadi luka baru.
Carut marutnya oknum aparat negara, dalam mengelola negara ini, melemahkan sendi-sendi kebesaran pemudah yaitu sebagai pewaris tunggal, sehingga banyak ditemui bahwa anak bangsa sebagai generasi mendatang mengeluti dunia masing-masing.
Kekuasan pemerintahan yang merugikan publik, atau dalam hal ini kebijakan yang tidak berpihak pada publik, dan secara gamblangn berpihak kepada perusahaan multi nasional, yang melemahkan sensifitas atau sentimental masyarakat, hal ini terlihat dalam bentuk kebijakan yang sangat parsial, bagi perusahan multiy nasional. Seharusnya kebijakan tersebut muncul suatu konsidaran dan adaptif terhadap masyarakat.
Para penguasa harus merubah sikap, framework, lifesytle, untuk membawah bangsa ini keluar dari ketinggalannya, atau akan menemui keutopiaanya, semakin berkecimpung dari keterpurukan, kebijakan yang tidak berpihak, bukan dengan mitos budaya instan.
Budaya bangsa, seharus dapat diproteksi oleh pemerintahan agar tidak terkontaminasi dari pengaruh luar/globilasiasi dengan wujud demensi liberalis, yang dapat menuju perusakan generasi mendatang, melalui munculkan suatu stigma pengembangan sikap kritis fenomena sosial, dan melakukan kajian dari kalangan akedemisi, teknokrat, birokrasi, dalam mewujudkan visi stragis atas keberpihakannya terhadap bangsa ini, terhadap pengaruh globalisasi yang mengusung modernisasi kapitalisme, sehingga terjadi pemetaaan tradisionalisme bangsa untuk dijadikan komoditas atau tontonan untuk mencari profit orentasi.
Selayaknyalah pemerintah tidak menyikapi dengan tangan dingin atau angin lalu, yang akan menambah keterperukan bangsa ini, sebagai langka yang sangat strategis adalah pemerintah membuat suatu diregulasi kebijakan yang menguntungkan sektor publik, dengan instrumen perlindungan terhadap budaya dan tradisionalnya bangsa ini.
Sebagai hal kecemasan itu muncul, adanya anak dan generasi mudah hidup dalam dunia sendiri, tanpa campurtangan dari pemerintah, dan pemerintah asyik dengan tindakan dari oknum aparat melakukan korupsi secara berjamaah tanpa melihat kedepan, mau jadi apa bangsa ini.
Para anak generasi mudah saat ini paham akan kekayaan alam dan budaya bangsa ini, dan para orang tua melakukan eksplotasi kekayaan negara ini, tanpa melihat sesi kedepan, yang akan menimbulkan warisan-warisan hutang piutang luar negeri yang cukup besar, over eksploitasi akan menuju rusaknya ekologi dan sumberdaya alam.
Internal Keluarga
Dengan adanya isu lunturnya nasionalis dari anak bangsa sebagai generasi indonesia, tidak mutlak menjadi tanggung jawab pemerintah, atau pertanyaan itu di peruntukkan hanya kepada pemerintah saja, namun dibutuhkan keterlibatan keluarga dalam hal mendidik anak-anak kita, semua itu dapat tercermin dalam keseharian dalam keluarga tersebut, ataupun dalam suatu dialogis dalam keluarga keberadaan negeri tercinta.
Trend atau fenomena dalam hidup pada wilayah perkotaan, dimana suami dan istri bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka bersaing keras meraih hidup sehingga mengalami degradasi kasih sayang dalam keluarganya yang dapat berimbas pada pola mendidik anak-anak.
Keseharian tersebut, terlihat dari jenis permainan lebih ke individual, seperti halnya permainan digital, play stasion (PS) dan pemakian TV layar lebar. Mari kita bandingkan dengan permainan rakyat atau tradisional seperti petak umpat, patuk lele, kelereng, lempar batu, jongklak, dari permainan tradisional tersebut, melibatkan interaksi yang luar biasa dan berkelanjutan, sehingga nilai-nilai kepedulianpun akan tumbuh dalam permainan.
Sisi lainnya peran keluarga yaitu adalah pembekalangan bagi sianak, terhadap warisan budaya bangsa yang sudah ternasionalisasikan, yaitu kursus pemahaman musik dan tari tradisional. Pembekalan sangatlah penting, sebagai wahana untuk memupuk sikap nasionlis, namun kecenderungan lain muncul, dimana orang tua atau wali murid, dalam memberdayaakan si anak melalui kursus pada wilayah pengembangan keilmuhan atau keahlian dari anak sautu contoh kursus aritmatika, sempoa, piano. Kondisi memang tidak kita kesampingkan, sebagai pembekalan ilmu dan keahlian dari sianak, namun tetap memberikan pembekalan dari segi budaya tradisional bangsa ini.
Melalui estafet budaya ini, muncul suatu keyakinan tentang jiwa, sikap, rasa dan pemahaman akan nasionalisme, akan tetap survaifal, yang tidak akan ditelan zaman kemodernan yang konon katanya, mengusung sifat kapitalisme dan liberalisme.
Pengaruh Globlisasi
Globaliasi adalah suatu wujud kesepakatan global atau mendunia, dengan mengusung atau menganut kebebasan untuk melakukan hubungan multilateral, atau pengertian lainnya, yaitu kebebasan dalam pergaulan antara negara, yang dapat mempengaruhi kehidupan yg individua atau keputusan rumah tangga.
Yang patut untuk diketahui adalah, bahwa bangsa Indonesia mempunyai budaya daerah ketimur-timuran atau dapat dipertegas yaitu ”kekeluargaan/familiar dan sangat plural, yang tidak memungkinkan pemikiran-pemikiran globalisasi masuk dalam alam pikir bangsa Indonesia.
Para Pengusa seharusnyalah mempersiapan generasi mudah yang tangguh dan handal, tanpa di kotomi oleh pihak asing, disamping itu pemudah kita harus merespect terhadap lingkungan sekitar.
Kebijakan globliasi, perlu disikapi dan mempersiap sumberdaya manusia indoneisa yang cerdas, sebab arah gerakan globalisasi yang dikuasai oleh pasar multi nasional, memampukan atau memungkinkan membeli suatu suatu negara atau kebijakan negara, kebijakan tersebut, daimana dapat merugikan publik atau kebijakan yang tidak berpihak kepada publik, suatu contoh : Perusahaan komputer yang dimiliki oleh Bill Gate, memberikan sumbangan komputer di sekolahan SD dan SMP di seluruh indonesia, sehingga mempunyai dampak kebijakan publik dengan melakukan penekanan pada publik atau masyarakat, konon di wilayah publik (Bandara Penerbangan), rahasia atau swiping pengguna prosesor.
Apriori kondisi, Generasi Bangsa Indonesia
1. Didikan dari para senior kita yang selalu melihat keburukan dalam kebaikan, melihat kesusahan dalam kesenangan, sebagai ancang ancang ketidakmampuan mereka mencapai tujua,. tapi kedepan generasi muda harus berani mengalahkan ajaran yang tidak benar itu, dalam kesusahan ada kesenangan, dalam keburukan ada kebaikan yang lebih baik lagi.. Jadi kita harus bertanya demikian “Indonesia kini sedang dalam proses menjadi lebih baik, apa menurut anda yang bisa dilakukan agar Indonesia menjadi lebih baik?” jangan “bagaimana menurut anda keadaan Indonesia” saat ini
2. Lingkungan dan kondisi nyata dari keadaan di Indonesia sudah sangat parah dan bobrok, misalnya masalah penegakan hukum dan keadilan di Indonesia, masalah narkoba, masalah pengaturan kemacetan lalu lintas, masalah susahnya mencari pekerjaan di Indonesia, dan dipertas lagi dengan kebijakan pemerintah yang kurang populer, kenaikan BBM, penghapusan subsidi pupuk, ketimpangan pembangunan dan perkotaan, meluncurkan program yang parsial. Kebijakan yang kurang populer tersebut berimbas pada kenaikan kebutuhan dasar masyarakat.
Kebijakan kenaikan BBM, banyak kalangan studi kasus atau logika berfikir sangat sederhana, bahwa kebijakan tersebut diperuntukan menanggulangai kapital asing yaitu Petronas dan Shell, sehingga kebijakan tersebut berimbas pada kebijakan publik.
Pengalihan atau subsidi minyak tanah, dengan substitusi kompor dan gas elpiji 3 kg bagi rakyat miskin di perkotaan dan diperdesaan. Pengadaan tabung tersebut berasal dari luar negeri, dimana terdapat keuntungan terselubung dari pihak importir dan ekportir (investor), pemahaman lain muncul, apakah semua telah dilakukan suatu kajian yang konfrehensif, dan benar-benar menguntung sekotor publik, kemungkinan hal ini tidak belum tercium oleh pers nasional yang seimbang, kekuatiran kedepan akan menjadi bumerang bagi pemerintah dan pertamina.
- Kedua poin diatas, dapat menyakinkan generasi muda menjadi sangat pesimistis terhadap keadaan Indonesia. Generasi muda melihat bahwa pemerintah tidak dapat menjawab semua permasalahan yang terjadi dan juga hal2 yg terjadi sudah mengakar di masyarakat dari tingkat atas hingga tingkat masyarakat yg paling rendah.
- Informasi di media massa yang begitu terbuka saat ini menunjukkan betapa kondisi Indonesia bobrok di berbagai segi. Expose terhadap informasi buruk ini dilakukan secara terus menerus, melebihi pemberitaan sisi-sisi baik. Alhasil hal buruk ini yang lebih sering diserap generasi muda. Pers atau media dalam hal menjual berita, seideal mungkin, dengan melihat akurasi waktu dan konsumsi sasaran.
- Kecenderungan yang mengakar dari masyarakat indonesia, yang di’wariskan’ juga oleh generasi sebelumnya, yaitu kecenderungan menganggap segala sesuatu yang datang dari luar, terutama barat itu lebih maju dan modern serta lebih baik, sehingga muncul suatu kosakata “kebarat-baratan”, yang dapat kita temui di wilayah perkotaan dan menyusuri wilayah perdesaan.
- Globalisasi dan perubahan dunia sekarang ini dimana expose informasi semakin terbuka, kita pun melihat bahwa bangsa2 lain, di luar barat seperti India, China, Korea, bahkan negeri tentangga kita Singapura dan Malaysia ternyata sudah bergerak lebih cepat dan lebih maju. Nah hal ini membuat generasi bangsa Indonesia kian rendah diri.
Tatok pangalinan – Pemerhati Bangsa dan Negara
Jakarta, 24 Agustus 2008
2 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Mencari orang nasionalis zaman sekarang sangat susah…
Komentar oleh Dinda Watson Maret 16, 2009 @ 6:17 ambahkan saya pun masih diragukan kenasionalisannya
Nasionalis yang susah di dapatkan pada zaman ini ? mengapa : sebab nya adalah :
Komentar oleh tatokpangalinan Agustus 11, 2009 @ 10:45 am1. Pengharga negara dari oknum pemimpin kepada masyarakat sangat minim.
2. Doktrin positif dalam jenjang pendidikan kita yang semakin menipis, mengenai kebangsaan, budaya dll.
3. Adanya ketamakan, keserahkan dan haus kekuasan atau jabatan, sehingga mengorban wilayah sosial area publik.
4. Sifat penjajah-2 yang masih mengakar kedalam relung dan hati nurani dari pemimpin-2.
5. Lebih mementingkan kepentingan sendiri atau kelompok,golongan dari pada kepentingan secara universal.